Tuesday, October 26, 2004
kualitas sebagai partner
semalam gw pergi ama temen sekantor gw, ke tempat kakak gw di bekasi. ketemuan di mal kalibata, eh ternyata ketemu bang wis yang baru abis kelar belanja buah-buahan, guna mempraktekkan food combining nya yang memang sudah memperlihatkan hasil pada bentuk badannya. setelah ngobrol sedikit sambil janjian buat buka bareng weekend ini, akhirnya colekan temen gw membuat gw sadar kalo dia udah dateng.
kebetulan itu pas jamnya buka puasa, ya udah akhirnya gw makan ama temen gw itu (bang wis diajak tapi nggak mau lha dia merusak diet ketatnya itu hehehehe). kebetulan tempat makan yang menjual bakmi itu penuh, dan kita duduk semeja dengan pasangan yang udah duduk duluan disitu. yo wis lha nggak apa-apa, daripada antri...demi perut gw yang udah jejeritan.
sambil nunggu makanan, mulailah percakapan tentang sedikit kehidupan dia, terutama menyangkut hubungan nya dengan seseorang. temen gw ini, seorang cewek cerdas yang tahu apa yang dia pengen, dan juga cukup punya standar tentang cowok yang menurut dia pantas buat jadi pendampingnya. menurutnya cowok yang fit buat jadi pendampingnya harus punya semangat untuk struggle, punya sikap, dan lebih bagus lagi kuat secara finansial. sebagian temennya menganggap cara berpikirnya itu sebagai 'cewek matre', buat gw sih sah-sah aja, karena tiap orang kan punya standar sendiri. dan lagi siapa sih yang yang mau jadi donatur (iya nggak bang wis)?
dia juga bilang sebenernya dia diantara dua pilihan, antara memenuhi "pinangan" seseorang lelaki yang notabene nya tipe family man, tapi tidak memenuhi kriteria kriteria struggle dan juga tidak punya sikap yang jelas; atau seorang lelaki yang memang dia suka, punya sikap, finansialnya kuat, meski antara mereka nggak ada deklarasi apa-apa.
mana sih yang lebih penting, menjadi pasangan seseorang yang memang jelas-jelas kita suka; atau mengejar hubungan dengan seseorang yang kita suka demi excitement? pada umur gw yang segini pun, kayaknya gw masih berpikir untuk memilih yang kedua. hidup cuma sekali, kalo nggak menjalaninya dengan orang yang kita suka, buat apa?
menjelang kita pisah, gw terngiang kata-katanya, ketika dia ditanyakan oleh seorang pria (beristri!!!)..."kenapa sih saya bisa suka sama kamu?" dia memberikan jawaban, bahwa karena dia nggak punya kualitas yang dimiliki sebagai istri, tapi dia punya kualitas yang dimiliki sebagai partner.
apakah pada intinya memang dibutuhkan partner, ketimbang istri? apa lantas berarti selingkuhan lebih berkualitas, atau lebih bisa dianggap partner dibanding istri?
kebetulan itu pas jamnya buka puasa, ya udah akhirnya gw makan ama temen gw itu (bang wis diajak tapi nggak mau lha dia merusak diet ketatnya itu hehehehe). kebetulan tempat makan yang menjual bakmi itu penuh, dan kita duduk semeja dengan pasangan yang udah duduk duluan disitu. yo wis lha nggak apa-apa, daripada antri...demi perut gw yang udah jejeritan.
sambil nunggu makanan, mulailah percakapan tentang sedikit kehidupan dia, terutama menyangkut hubungan nya dengan seseorang. temen gw ini, seorang cewek cerdas yang tahu apa yang dia pengen, dan juga cukup punya standar tentang cowok yang menurut dia pantas buat jadi pendampingnya. menurutnya cowok yang fit buat jadi pendampingnya harus punya semangat untuk struggle, punya sikap, dan lebih bagus lagi kuat secara finansial. sebagian temennya menganggap cara berpikirnya itu sebagai 'cewek matre', buat gw sih sah-sah aja, karena tiap orang kan punya standar sendiri. dan lagi siapa sih yang yang mau jadi donatur (iya nggak bang wis)?
dia juga bilang sebenernya dia diantara dua pilihan, antara memenuhi "pinangan" seseorang lelaki yang notabene nya tipe family man, tapi tidak memenuhi kriteria kriteria struggle dan juga tidak punya sikap yang jelas; atau seorang lelaki yang memang dia suka, punya sikap, finansialnya kuat, meski antara mereka nggak ada deklarasi apa-apa.
mana sih yang lebih penting, menjadi pasangan seseorang yang memang jelas-jelas kita suka; atau mengejar hubungan dengan seseorang yang kita suka demi excitement? pada umur gw yang segini pun, kayaknya gw masih berpikir untuk memilih yang kedua. hidup cuma sekali, kalo nggak menjalaninya dengan orang yang kita suka, buat apa?
menjelang kita pisah, gw terngiang kata-katanya, ketika dia ditanyakan oleh seorang pria (beristri!!!)..."kenapa sih saya bisa suka sama kamu?" dia memberikan jawaban, bahwa karena dia nggak punya kualitas yang dimiliki sebagai istri, tapi dia punya kualitas yang dimiliki sebagai partner.
apakah pada intinya memang dibutuhkan partner, ketimbang istri? apa lantas berarti selingkuhan lebih berkualitas, atau lebih bisa dianggap partner dibanding istri?

